JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat dan diperkirakan masih melemah dalam beberapa hari ke depan. Sejumlah analis memperingatkan, apabila tren ini terus berlanjut, dolar Amerika Serikat berpotensi menembus level Rp18.000 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga menurunnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas mata uang domestik.
Menurutnya, ketika dolar AS terus menguat, masyarakat dan pelaku pasar cenderung mengalihkan simpanan mereka ke valuta asing demi menjaga nilai aset. Kondisi ini dinilai dapat mempercepat pelemahan rupiah karena permintaan terhadap dolar semakin tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jika rupiah menembus Rp18.000, dampaknya bisa sangat luas. Efek psikologis terhadap investor dan masyarakat akan besar, terutama dalam mendorong perpindahan dana ke dolar AS,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Pelemahan rupiah juga diperkirakan akan memicu kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri. Produk pangan seperti kedelai yang sebagian besar masih bergantung pada impor diprediksi ikut mengalami kenaikan harga, yang pada akhirnya membebani masyarakat.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai dampak pelemahan rupiah akan langsung terasa pada sektor produksi dan harga barang di tingkat konsumen.
Ia menjelaskan, kenaikan biaya impor dan distribusi akan membuat pelaku usaha lebih cepat menaikkan harga jual produk. Kondisi ini berisiko memicu imported inflation atau inflasi akibat mahalnya biaya impor.
“Transmisi kenaikan biaya produksi ke harga retail akan semakin cepat. Masyarakat akan menghadapi harga barang yang makin mahal dalam waktu singkat,” kata Bhima.
Selain ancaman inflasi, tekanan nilai tukar juga dikhawatirkan memicu gelombang efisiensi perusahaan, khususnya industri padat karya yang bergantung pada bahan baku impor. Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) disebut semakin terbuka jika biaya produksi terus melonjak.
Bhima menambahkan, kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi pihak paling rentan menghadapi situasi ini. Di tengah daya beli yang melemah, kenaikan harga kebutuhan pokok dan ancaman kehilangan pekerjaan dinilai dapat memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Ia bahkan memperingatkan, jika dolar benar-benar menyentuh Rp18.000, angka kemiskinan dan pengangguran berpotensi kembali meningkat akibat tekanan ekonomi yang semakin berat.
Sementara itu, pelaku pasar diperkirakan terus memburu dolar AS sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi. Fenomena ini dinilai dapat menciptakan spiral pelemahan rupiah yang lebih dalam apabila tidak segera diantisipasi melalui langkah stabilisasi yang efektif.
Editor:Red/sc/detik finance.













