Ray Rangkuti Peringatkan Kudeta Merambat dan Menguatnya Militerisme di Indonesia

- Penulis

Kamis, 9 Juli 2026 - 00:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA – Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, menilai Indonesia kecil kemungkinan mengalami kudeta militer dalam bentuk klasik seperti yang pernah terjadi di Myanmar, Niger, Gabon, maupun Turki. Namun, ia mengingatkan adanya ancaman yang disebutnya sebagai “kudeta merambat”, yakni penguasaan institusi negara secara bertahap tanpa menggunakan kekuatan bersenjata.

Pandangan tersebut disampaikan Ray dalam diskusi publik bertajuk “Militer, Bisnis, dan Politik: Pelajaran dari Kudeta Militer di Berbagai Negara” yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu 8 Juli.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Ray, pola kudeta pada era modern tidak lagi identik dengan pengambilalihan kekuasaan melalui senjata, melainkan melalui masuknya aktor tertentu ke berbagai instrumen negara hingga menguasai ruang-ruang strategis pemerintahan.

“Kudeta dalam era modern disebut kudeta merambat. Ia berbeda dengan pengertian kudeta yang selama ini kita kenal. Maksud dari kudeta model ini yakni memasuki instrumen-instrumen negara lalu menguasainya, tanpa sama sekali menggunakan senjata. Mereka seharusnya tidak berada di sana,” ujar Ray.

Ia juga membedakan antara militerisasi dan militerisme. Menurutnya, militerisasi hanya sebatas penempatan personel militer di ruang sipil, sedangkan militerisme merupakan cara pandang yang menempatkan nilai-nilai militer sebagai standar utama dalam berbagai aspek kehidupan.

“Militerisasi itu sebatas penempatan militer di ruang sipil yang tidak punya landasan hukum atau kebijakan. Sedangkan militerisme adalah sebuah paham yang menganggap militer yang paling hebat. Indonesia sudah masuk pada fase militerisme,” katanya.

Ray menilai gejala tersebut terlihat ketika berbagai persoalan sipil mulai diukur menggunakan pendekatan militer. Ia mencontohkan anggapan bahwa disiplin, karakter, etika, hingga semangat bela negara hanya dapat dibentuk melalui pelatihan bergaya militer.

“Kalau semua hal harus diukur dengan cara pandang dan standar militer, itulah yang disebut ‘isme’ atau paham,” ujarnya.

Sebagai contoh, Ray menyinggung rencana pelatihan bergaya militer bagi Manajer Koperasi Desa Merah Putih. Menurutnya, persoalannya bukan sekadar pelaksanaan latihan, melainkan munculnya keyakinan bahwa disiplin dan karakter hanya dapat dibangun melalui metode militer.

“Bahwa seolah-olah soal disiplin, karakter, bela negara, kemampuan menghadapi persoalan, semuanya harus diukur dengan nilai militer. Itulah yang kami sebut sebagai militerisme, bukan sekadar militerisasi,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ibnu Sina Chandranegara, menyoroti masih adanya sejumlah persoalan struktural pascareformasi yang dinilai belum terselesaikan.

Ia menyebut amanat Pasal 76 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI terkait pengalihan seluruh bisnis TNI kepada negara dalam waktu lima tahun hingga kini belum sepenuhnya direalisasikan secara transparan.

Selain itu, Ibnu menilai tren penempatan personel TNI aktif di jabatan sipil memunculkan kekhawatiran terhadap creeping securitization atau militerisasi birokrasi sipil.

Ia juga mengkritisi fungsi pengawasan DPR terhadap anggaran dan doktrin pertahanan yang dinilai masih bersifat prosedural, bukan substantif.

Menurutnya, militer yang memiliki basis ekonomi independen berpotensi memiliki daya tawar politik yang tidak proporsional dalam sistem demokrasi.

(Red/sc voa id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel elangcybernusantaratv.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tak Ada Ampun! Vonis Hukuman Mati Pejabat Korup Meski Kooperatif Bantu Penyelidikan
Rugun Saragih Jadi Sorotan Usai Penggeledahan Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Ardiansyah
Penggerebekan Besar-Besaran Scam Center di Kamboja, Sekitar 1.100 WNI Ditahan di Fasilitas Imigrasi
Mahfud MD Apresiasi Polri dan Kejagung, Dorong Keduanya Terus Berlomba Membongkar Korupsi
Polri Usut Dugaan Korupsi Batu Bara, Diduga Jadi Biang Kerok Blackout Listrik Nasional
Polisi Aktif Jadi Tersangka Dugaan Korupsi MBG, Kejagung Ungkap Modus Pengadaan Food Tray
Program Koperasi Desa Merah Putih Diharapkan Berjalan, Manajer Jalani Latsarmil dan Siapkan Akses Permodalan
Fenomena Kumpul kebo di Indonesia Meningkat, Peneliti Soroti Dampaknya bagi Perempuan dan Anak
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:08 WIB

Tak Ada Ampun! Vonis Hukuman Mati Pejabat Korup Meski Kooperatif Bantu Penyelidikan

Senin, 13 Juli 2026 - 23:27 WIB

Rugun Saragih Jadi Sorotan Usai Penggeledahan Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Ardiansyah

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:59 WIB

Penggerebekan Besar-Besaran Scam Center di Kamboja, Sekitar 1.100 WNI Ditahan di Fasilitas Imigrasi

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:12 WIB

Mahfud MD Apresiasi Polri dan Kejagung, Dorong Keduanya Terus Berlomba Membongkar Korupsi

Kamis, 9 Juli 2026 - 00:16 WIB

Ray Rangkuti Peringatkan Kudeta Merambat dan Menguatnya Militerisme di Indonesia

Berita Terbaru