Jakarta,
Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Ridho Al-Hamdi menilai loyalitas partai politik di Indonesia cenderung bersifat cair dan pragmatis demi menjaga akses terhadap kekuasaan serta sumber daya politik.
Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi klaim kesetiaan partai dalam koalisi pemerintahan, termasuk sikap Prabowo Subianto yang terus mendapat dukungan dari PAN dalam tiga kali Pilpres.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski dikenal konsisten mendukung Prabowo, PAN sebelumnya tetap bergabung ke pemerintahan Joko Widodo usai kekalahan Prabowo pada periode sebelumnya. Menurut Ridho, kondisi itu menunjukkan bahwa sebagian besar partai politik lebih memilih mendekat ke pusat kekuasaan dibanding mengambil posisi oposisi secara penuh.
“Partai politik di Indonesia itu nggak murni benar-benar menjadi petarung, semuanya tetap merapat ke kekuasaan,” ujar Ridho, Senin (11/5/2026).Guru Besar llmu Politik UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ) tersebut menilai belum ada partai yang memiliki mentalitas menjadi oposisi sejati. Bahkan partai besar yang sebelumnya dikenal kritis terhadap pemerintah disebut mulai melunak demi menjaga pengaruh politik praktis.
Ridho menyebut ketergantungan terhadap modal finansial menjadi alasan utama partai-partai enggan berada di luar pemerintahan terlalu lama.
(Foto Muchlis jr-Biro pers,media &informasi sekretariat Presiden )
“Menurut saya partai-partai politik di Indonesia ini nggak punya modal kuat untuk menjadi oposisi. Semuanya haus dengan kekuasaan yang melahirkan modal finansial, semuanya pengen posisi, semuanya pengen uang,” tegasnya.
Ia juga memprediksi lanskap politik nasional tidak akan mengalami perubahan signifikan dalam satu dekade mendatang apabila aktor-aktor politik yang dominan masih berasal dari kelompok yang sama.
“Kalau orang-orangnya itu-itu aja, ya perubahan signifikan akan sulit terjadi,” pungkasnya.
(Red/sc suara.com )













