Hidup Sederhana Hingga Akhir Hayat,Tolak Manfaatkan Nama Besar Orang Tua

- Penulis

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta,

Di tengah fenomena anak pejabat negara yang kerap memanfaatkan koneksi dan nama besar orang tua demi karier instan, terselip satu kisah klasik yang patut menjadi cermin. Adalah Soesalit, putra dari tokoh emansipasi wanita R.A. Kartini, yang justru memilih jalan terjal demi menjaga integritasnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Soesalit lahir dari keluarga elit. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Djojadiningrat, merupakan Bupati Rembang. Namun, Soesalit enggan menaiki tangga kesuksesan dengan “menjual” nama besar ayah-ibunya.

Menolak Kursi Bupati demi Jadi Tentara

Dalam catatan sejarah yang dirangkum Wardiman Djojonegoro dalam buku Kartini (2024), Soesalit sejatinya memiliki hak untuk melanjutkan tongkat estafet sang ayah sebagai Bupati Rembang. Namun, ia secara tegas menolak jabatan empuk tersebut meski berkali-kali diminta oleh pihak keluarga.

 

Sebagai gantinya, ia memilih jalur militer dengan bergabung ke Pembela Tanah Air (PETA) pada tahun 1943. Kariernya di dunia militer pun terbilang moncer lewat keringatnya sendiri.

 

Mengutip Kartini: Sebuah Biografi (1979) karya Sitisoemandari Soeroto, keterlibatan Soesalit dalam berbagai pertempuran melawan Belanda membawanya menduduki jabatan strategis. Puncaknya pada tahun 1946, ia diangkat menjadi Panglima Divisi II Diponegoro yang bertanggung jawab menjaga ibu kota negara di Yogyakarta.

 

Hidup Sederhana hingga Akhir Hayat

Meski pernah menduduki posisi mentereng, termasuk menjadi penasihat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastroamidjojo pada 1953, tak banyak yang tahu bahwa ia adalah anak tunggal Kartini. Hal ini dikarenakan Soesalit sangat tertutup mengenai identitas keluarganya.

 

Bahkan, Jenderal A.H. Nasution sempat memberikan kesaksian mengenai prinsip hidup Soesalit yang keras. Selepas pensiun, Soesalit lebih memilih hidup prihatin sebagai veteran ketimbang menuntut hak-hak istimewa atau mencari simpati publik dengan mengungkap jati dirinya.

 

“Ia bisa saja tidak hidup melarat hanya dengan berkata bahwa dia adalah satu-satunya putra Kartini,” tulis Nasution dalam buku biografi tersebut.

 

Prinsip untuk tidak mengandalkan bayang-bayang orang tua terus ia pegang teguh hingga mengembuskan napas terakhir pada 17 Maret 1962.

 

Hingga tutup usia, sang jenderal bintang dua ini tetap memilih hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan yang seharusnya bisa ia rengkuh dengan mudah jika saja ia mau memanfaatkan nama besar sang ibu.

(Red/source:cnbc indonesia/M Fachriansyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel elangcybernusantaratv.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tak Ada Ampun! Vonis Hukuman Mati Pejabat Korup Meski Kooperatif Bantu Penyelidikan
Rugun Saragih Jadi Sorotan Usai Penggeledahan Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Ardiansyah
Penggerebekan Besar-Besaran Scam Center di Kamboja, Sekitar 1.100 WNI Ditahan di Fasilitas Imigrasi
Mahfud MD Apresiasi Polri dan Kejagung, Dorong Keduanya Terus Berlomba Membongkar Korupsi
Ray Rangkuti Peringatkan Kudeta Merambat dan Menguatnya Militerisme di Indonesia
Polri Usut Dugaan Korupsi Batu Bara, Diduga Jadi Biang Kerok Blackout Listrik Nasional
Polisi Aktif Jadi Tersangka Dugaan Korupsi MBG, Kejagung Ungkap Modus Pengadaan Food Tray
Program Koperasi Desa Merah Putih Diharapkan Berjalan, Manajer Jalani Latsarmil dan Siapkan Akses Permodalan
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:08 WIB

Tak Ada Ampun! Vonis Hukuman Mati Pejabat Korup Meski Kooperatif Bantu Penyelidikan

Senin, 13 Juli 2026 - 23:27 WIB

Rugun Saragih Jadi Sorotan Usai Penggeledahan Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Ardiansyah

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:59 WIB

Penggerebekan Besar-Besaran Scam Center di Kamboja, Sekitar 1.100 WNI Ditahan di Fasilitas Imigrasi

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:12 WIB

Mahfud MD Apresiasi Polri dan Kejagung, Dorong Keduanya Terus Berlomba Membongkar Korupsi

Kamis, 9 Juli 2026 - 00:16 WIB

Ray Rangkuti Peringatkan Kudeta Merambat dan Menguatnya Militerisme di Indonesia

Berita Terbaru