Jakarta – Pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi merespons ultimatum 18 hari yang diberikan aliansi BEM SI Jawa Tengah terkait tuntutan penguatan nilai tukar rupiah dan perbaikan kondisi ekonomi nasional. Pemerintah menegaskan bahwa aspirasi mahasiswa diterima sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa, namun penyelesaian persoalan ekonomi tidak dapat dilakukan secara instan dalam tenggat waktu tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prasetyo menyampaikan bahwa pemerintah saat ini terus melakukanPemerintah Respons Ultimatum 18 Hari BEM SI Jateng Soal Rupiah: Aspirasi Diterima, Solusi Ekonomi Tak Bisa Instan koordinasi intensif dengan berbagai lembaga terkait, termasuk otoritas fiskal dan moneter, guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global dan dinamika domestik. Ia menekankan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi banyak faktor sehingga membutuhkan kebijakan yang terukur dan berkelanjutan.ujar Prasetyo menerima tuntutan di Komplek Parlemen Senayan,Jakarta (Senin 8/6) dilansir dari laman Suara.com
Menurut Prasetyo, pemerintah optimistis langkah-langkah yang sedang dijalankan akan memberikan hasil positif. Namun ia mengingatkan bahwa perubahan ekonomi yang bersifat fundamental tidak selalu dapat dicapai sesuai tenggat waktu yang ditetapkan pihak tertentu.
Sebelumnya, BEM SI Jawa Tengah memberikan waktu 18 hari kepada pemerintah untuk menunjukkan perbaikan signifikan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Dalam aksi yang digelar di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Semarang, mahasiswa mengancam akan menggelar aksi lanjutan bertajuk “Reformasi Jilid 2” apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi. �
Meski demikian, pemerintah mengapresiasi semangat kritis mahasiswa dan menilai tuntutan tersebut sebagai bentuk partisipasi generasi muda dalam mengawal kebijakan ekonomi nasional. Pemerintah juga memastikan komunikasi dan koordinasi antarinstansi akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi, nilai tukar rupiah, serta kepercayaan pelaku usaha dan investor.
(Red/sc:suara.com)













