Jakarta – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa menjadi peringatan serius mengenai dampak perubahan iklim global. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah wilayah di Inggris, Irlandia, dan Prancis mencatatkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Mei, sementara prakiraan cuaca menunjukkan kondisi panas masih akan berlanjut.
Menurut data Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, Eropa saat ini menjadi benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Suhu rata-rata kawasan tersebut telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri (1850–1900).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para ilmuwan menjelaskan bahwa fenomena yang dikenal sebagai “kubah panas” (heat dome) menjadi salah satu penyebab utama gelombang panas kali ini. Kubah panas terjadi ketika udara panas dari Afrika Utara terjebak di bawah sistem tekanan tinggi yang menetap di atas wilayah Eropa Barat, sehingga suhu meningkat secara signifikan dan bertahan dalam waktu lama.
Peneliti cuaca ekstrem dan perubahan iklim dari Imperial College London, Ben Clarke, menyebut sebagian besar peningkatan suhu global dipicu oleh emisi gas rumah kaca akibat penggunaan bahan bakar fosil.
Sementara itu, Direktur Copernicus Climate Change Service, Carlo Buontempo, mengatakan pola sirkulasi atmosfer telah berubah dalam beberapa dekade terakhir. Sistem tekanan tinggi yang membawa cuaca stabil dan panas kini lebih sering terjadi, sehingga meningkatkan risiko gelombang panas di berbagai wilayah Eropa.
Arktik Memanas Lebih Cepat
Salah satu faktor yang mempercepat pemanasan di Eropa adalah kedekatannya dengan kawasan Arktik. Wilayah Arktik saat ini tercatat sekitar 3,2 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan masa pra-industri.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa pencairan es laut memicu efek umpan balik albedo. Ketika lapisan es dan salju yang berwarna terang mencair, permukaan laut dan daratan yang lebih gelap akan menyerap lebih banyak panas matahari. Akibatnya, suhu meningkat lebih cepat dan mempercepat pencairan es berikutnya.
Salju Berkurang, Daratan Menyerap Lebih Banyak Panas
Di berbagai kawasan Eropa, wilayah yang sebelumnya tertutup salju selama musim dingin kini mengalami periode salju yang lebih singkat. Berkurangnya tutupan salju membuat permukaan tanah yang lebih gelap terekspos lebih lama, sehingga menyerap lebih banyak energi panas dari matahari.
Kondisi ini turut mempercepat laju pemanasan di sejumlah wilayah, terutama Eropa Tengah dan kawasan Pegunungan Alpen.
Polusi Udara Menurun, Efek Pemanasan Meningkat
Upaya negara-negara Eropa memperbaiki kualitas udara juga memiliki dampak yang kompleks terhadap iklim. Pengurangan emisi aerosol sejak 1980-an memang meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi di sisi lain mengurangi efek pendinginan alami yang selama ini dihasilkan partikel-partikel tersebut.
Aerosol diketahui mampu memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke atmosfer. Ketika jumlahnya berkurang, lebih banyak radiasi matahari mencapai permukaan bumi dan berkontribusi terhadap peningkatan suhu.
Pemanasan Tidak Merata
Data Copernicus menunjukkan laju pemanasan berbeda-beda di setiap wilayah Eropa. Kawasan Eropa Timur, Eropa Tenggara, dan sebagian Eropa Tengah mengalami peningkatan suhu sekitar 0,5 hingga 1 derajat Celsius per dekade dalam 30 tahun terakhir.
Sementara itu, wilayah Eropa Barat, Barat Daya, serta negara-negara Nordik seperti Finland, Norway, dan Sweden mencatat kenaikan suhu sekitar 0,2 hingga 0,5 derajat Celsius per dekade.
Wilayah yang mengalami pemanasan paling cepat adalah Svalbard, kepulauan Arktik milik Norwegia yang menjadi habitat beruang kutub. Kawasan tersebut mengalami kenaikan suhu antara 1,5 hingga 2 derajat Celsius per dekade dan termasuk salah satu wilayah dengan laju pemanasan tercepat di dunia.
Para ahli menilai kondisi ini menjadi bukti bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan fenomena yang sudah dirasakan secara nyata saat ini. Gelombang panas yang semakin sering dan semakin ekstrem diperkirakan akan terus meningkat apabila emisi gas rumah kaca global tidak berhasil ditekan.
(Red/cnbc/)













