Pematang Raya
Penguatan Akar Budaya Jati Diri Simalungun Ditegaskan di Momentum Hari Jadi ke-193,yang akan menggelar Pesta Rakyat pada hari Sabtu 18/4 .Semangat menjaga identitas dan warisan leluhur kembali ditegaskan dalam peringatan Hari Jadi ke-193 Kabupaten Simalungun. Momentum ini menjadi pengingat kuat bahwa kemajuan daerah tidak boleh memutus akar budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Simalungun yang digelar pada 11 April 2026 yang lalu, berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan, turut hadir menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat jati diri budaya Simalungun.
Tema yang diusung tahun ini, “Penguatan Jati Diri Budaya Menuju Simalungun Maju dan Berdaya Saing”, dinilai bukan sekadar slogan, melainkan panggilan nyata bagi seluruh masyarakat untuk menjaga identitas di tengah derasnya arus modernisasi.
Ketua DPC GEMAIS Kabupaten Simalungun, Irwan Susanto Purba, menegaskan bahwa budaya adalah fondasi utama yang tidak boleh tergeser oleh perkembangan zaman,tegas Irwan kepada Elang Cyber Nusantara,(Senin 13/4)
“Penguatan akar budaya adalah kunci. Jika jati diri hilang, maka arah pembangunan juga akan kehilangan pijakan. Simalungun harus maju, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai budaya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kearifan lokal yang menjadi ciri khas masyarakat Simalungun, termasuk falsafah “Habonaron Do Bona” sebagai pedoman hidup.
Menurutnya, kemajuan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila pembangunan berjalan selaras dengan pelestarian budaya. Tanpa itu, identitas daerah berisiko terkikis dan kehilangan makna.
GEMAIS Kabupaten Simalungun pun mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya bangga terhadap budaya, tetapi juga aktif melestarikan dan mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Jadi ke-193 ini diharapkan menjadi titik balik dalam memperkuat komitmen bersama: membangun Simalungun yang maju, berdaya saing, namun tetap kokoh berdiri di atas akar budayanya sendiri.
(Red)













