ATAMBUA, – Moment peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 pada 1 Juni 2026, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Belu, Propinsi NTT Yanuarius Antonius Wadan Talok, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak sekadar menghafal Pancasila, tetapi mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Yanuarius, Pancasila merupakan fondasi utama bangsa Indonesia yang tetap relevan di tengah perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta berbagai tantangan kebangsaan yang terus berkembang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengawali refleksinya dengan memberikan penghormatan kepada para tokoh perumus dasar negara, yakni Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno, serta Panitia Sembilan yang berperan dalam penyempurnaan konsep Pancasila.
“Pancasila adalah warisan besar para pendiri bangsa yang harus terus dijaga dan diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya menjadi simbol atau hafalan saat upacara,” ujarnya.
Yanuarius menilai pengamalan nilai-nilai Pancasila harus tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kehidupan beragama yang harmonis, toleransi antarsesama, semangat gotong royong, hingga pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab menanamkan nilai-nilai Pancasila tidak hanya berada di tangan guru dan lembaga pendidikan, tetapi menjadi tugas bersama seluruh komponen bangsa, termasuk para pemimpin di semua tingkatan.
“Seluruh masyarakat harus menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Para pemimpin juga harus menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan mencerminkan semangat keadilan sosial,” tegasnya.
Sebagai Ketua PGRI Belu, Yanuarius memberikan pesan khusus kepada para guru agar tetap menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia melalui pendidikan yang berorientasi pada penguatan karakter, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kesehatan, serta keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menurutnya, pembentukan karakter peserta didik saat ini tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui penerapan budaya sekolah dan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang terintegrasi dalam seluruh proses pendidikan.
Momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini, lanjutnya, menjadi pengingat bagi seluruh rakyat Indonesia untuk kembali menjadikan Pancasila sebagai kompas moral dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, seperti korupsi, kesenjangan sosial, intoleransi, serta tantangan di bidang pendidikan dan kesehatan.
Di akhir pesannya, Yanuarius berharap Indonesia semakin kuat sebagai bangsa yang bersatu dalam keberagaman, dengan pelayanan publik yang semakin baik, pendidikan yang maju, kesejahteraan guru yang meningkat, serta kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.
“Pancasila bukan hanya warisan sejarah yang diperingati setiap tahun. Pancasila adalah pedoman hidup yang harus terus dijaga dan diwujudkan oleh setiap generasi demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya.
(Red/belu pos)













