JAKARTA – Pengamat politik Fernando Emas mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan berbagai persoalan ekonomi yang saat ini dirasakan masyarakat. Menurutnya, kondisi yang pernah memicu Reformasi 1998 dapat kembali terjadi apabila pemerintah gagal merespons kesulitan ekonomi rakyat secara cepat dan tepat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fernando menegaskan bahwa Reformasi 1998 merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah politik modern Indonesia yang lahir dari akumulasi persoalanFernando Emas Ingatkan Potensi “Reformasi 1998 Jilid II” Jika Persoalan Ekonomi Tak Segera Dibenahi ekonomi, sosial, dan politik yang tidak tertangani dengan baik.
“Saya tidak menakut-nakuti pemerintahan Prabowo, melainkan memberikan peringatan berbasis sejarah yang nyata. Kondisi yang pernah memicu ledakan sosial seperti tahun 1998 berpotensi berulang jika pemerintah tidak segera bertindak,” ujar Fernando Emas kepada wartawan, Minggu (14/6).
Meski demikian, Fernando menilai skenario yang disebutnya sebagai “Reformasi 1998 Jilid II” tidak akan terjadi secara otomatis. Menurutnya, pemerintah masih memiliki kesempatan untuk mencegah terjadinya akumulasi kekecewaan publik melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
“Masih ada jendela peluang bagi Presiden Prabowo untuk mengambil langkah-langkah konkret dan terukur guna mencegah kemarahan publik mencapai titik kritis yang sulit dikendalikan,” katanya.
Fernando juga mendorong pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja para menteri, khususnya yang menangani sektor ekonomi. Ia menilai keberanian melakukan terobosan kebijakan, termasuk pergantian pejabat yang dinilai tidak mampu menghadirkan solusi, menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.
Menurutnya, kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil tidak hanya terlihat dalam data statistik, tetapi dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Kondisi itu tampak dari antrean panjang di SPBU, harga bahan pokok yang terus naik, tagihan listrik yang meningkat, hingga semakin sulitnya masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak,” jelasnya.
Fernando turut menyoroti kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan sumber protein hewani yang dinilai tidak sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Situasi tersebut, kata dia, secara perlahan terus menggerus daya beli masyarakat.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta mencegah munculnya gejolak sosial yang dapat mengganggu pembangunan nasional.
(Red/sc:jawa pos.com)













