Pematang Siantar, 18 Maret 2026 – Semangat sinodal yang mengusung makna “berjalan bersama” terus digaungkan dalam berbagai kegiatan Gereja Katolik, termasuk di lingkungan pendidikan. Salah satunya diwujudkan oleh Yayasan Santo Yoseph Medan melalui kegiatan edukatif dan reflektif di Pematang Siantar, sebagai bagian dari rangkaian Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan.
Kata sinodal sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berjalan bersama”. Dalam konteks Gereja Katolik, sinode bukanlah ajang untuk menentukan kepemimpinan, melainkan sebuah proses mendengarkan, berdialog, dan merumuskan arah pastoral Gereja ke depan. Hasil dari proses ini nantinya akan dirangkum oleh panitia sinode dan, setelah mendapat persetujuan Uskup Agung, menjadi pedoman pelayanan Gereja Katolik di wilayah Sumatera Utara dan Aceh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengangkat tema “Mendengarkan, Meneguhkan, dan Mewartakan”, seluruh elemen Gereja—mulai dari lembaga pendidikan, komunitas, yayasan, paroki, hingga kelompok basis gerejani—turut terlibat aktif dalam proses refleksi ini. Nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi bahan diskusi, tetapi juga dihidupi dalam keseharian, termasuk di dunia pendidikan.
Salah satu kisah inspiratif datang dari seorang siswi kelas VIII SMP Cinta Rakyat 4 Pematang Siantar, Juita Saragih, yang mengikuti lomba poster digital dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun pelindung Yayasan Santo Yoseph.
Dalam presentasinya, Juita membagikan pengalaman pribadi yang menyentuh. Ia sempat mengalami penurunan kepercayaan diri akibat ejekan dari teman-temannya terhadap bakat seni yang dimilikinya. Kondisi tersebut membuatnya menjadi lebih tertutup dan kehilangan keceriaan.
Namun, perhatian para guru menjadi titik balik dalam hidupnya. Perubahan sikap Juita tidak luput dari pengamatan para pendidik di sekolah. Ia kemudian dipanggil dan diajak berbicara secara terbuka. Para guru dengan penuh empati mendengarkan setiap keluh kesahnya, meneguhkan kembali harapan serta cita-citanya, dan menunjukkan kasih melalui tindakan nyata.
Dari pengalaman tersebut, Juita menemukan kembali semangat hidupnya. Ia kemudian menuangkannya dalam karya poster dengan pesan mendalam:
“Mendengarkan dengan hati, meneguhkan dengan kasih sayang, dan mewartakan dengan tindakan akan membawa kebahagiaan bagi semua orang, serta menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia.”tutur Drs Albert Sinaga MPd kepada Elang Cyber Nusantara .
Kisah ini menjadi cerminan nyata dari implementasi nilai-nilai sinodal di lingkungan sekolah, di mana pendidikan tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan iman.
Melalui momentum ini, seluruh keluarga besar Yayasan Santo Yoseph—mulai dari dewan pembina, pengawas, pengurus, kepala sekolah, guru, staf, siswa-siswi, hingga para orang tua—diajak untuk terus berjalan bersama dalam semangat sinodal.
Selamat bersinodal. Semoga nilai mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan terus hidup dan berkembang, membawa terang serta kasih bagi sesama.













