La Paz, Bolivia — Krisis ekonomi berkepanjangan di Bolivia memicu gelombang demonstrasi besar yang kini berkembang menjadi tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Rodrigo Paz. Ribuan warga turun ke jalan menuntut solusi atas kelangkaan bahan bakar, kenaikan biaya hidup, hingga desakan agar presiden mengundurkan diri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi protes yang awalnya dipicu masalah ekonomi berubah menjadi gerakan nasional, melibatkan serikat pekerja, penambang, kelompok tani, hingga komunitas adat. Blokade jalan di berbagai wilayah telah berlangsung hampir dua minggu dan mengganggu distribusi makanan, bahan bakar, serta pasokan medis.
Pemerintah Bolivia menghadapi tekanan berat setelah kebijakan pengurangan subsidi bahan bakar dan langkah penghematan dianggap memperparah beban masyarakat. Krisis ini diperburuk oleh penurunan produksi energi domestik dan kekurangan dolar AS, menjadikannya salah satu kondisi ekonomi terburuk yang dialami Bolivia dalam beberapa dekade terakhir.
Situasi di ibu kota La Paz semakin tegang. Beberapa bank sempat menutup layanan langsung karena alasan keamanan, sementara pemerintah mengerahkan aparat untuk membuka blokade jalan. Bentrokan antara demonstran dan polisi dilaporkan menimbulkan korban serta puluhan penangkapan.

Di tengah tekanan, Presiden Rodrigo Paz mengumumkan rencana perombakan kabinet sebagai upaya meredakan kemarahan publik. Namun sebagian demonstran tetap menilai langkah tersebut belum cukup untuk menjawab krisis yang terus memburuk.
(Dikutip dari :CNBC indonesia/Reuter/Claudia Morales)













