Oleh: Albert Sinaga, Dewan Pendidikan Simalungun
SIMALUNGUN – Istilah quo vadis yang berasal dari bahasa Latin, berarti “ke mana akan pergi”, kini menjadi pertanyaan reflektif terhadap arah pendidikan di Kabupaten Simalungun. Hal ini mencuat setelah pengumuman penerimaan siswa baru di sejumlah SMA unggulan untuk tahun ajaran 2026/2027 yang dinilai belum mencantumkan siswa asal Simalungun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat: apakah siswa dari Simalungun tidak mengikuti seleksi, atau justru belum mampu bersaing dalam proses tersebut?
Sorotan juga tertuju pada terbitnya Surat Keputusan Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2026, di mana tidak satu pun sekolah di Simalungun masuk dalam kategori sekolah model. Padahal, selama ini daerah tersebut memiliki sejumlah sekolah yang dikenal sebagai percontohan, seperti sekolah di Pematang Raya, SD Plus di Balata, hingga SMA Plus di Raya.
Sebaliknya, Kota Pematang Siantar justru mencatatkan prestasi dengan beberapa sekolah yang diakui secara nasional sebagai sekolah model, di antaranya TK Methodis, SD RK 2, SMP CR 1, dan SMP Bintang Timur.
Meski demikian, kondisi ini belum bisa menjadi kesimpulan mutlak bahwa kualitas pendidikan di Simalungun rendah. Namun, perbandingan capaian tetap menjadi perhatian. Sebagai contoh, satu sekolah seperti SMP RK Bintang Timur mampu meloloskan hingga 64 siswanya ke SMA unggulan seperti SMA Del. Sementara itu, SMP Negeri 1 Sidikalang, Kabupaten Dairi, mampu mengutus sembilan siswanya.
Ketiadaan sekolah model di Simalungun juga berpotensi menimbulkan dampak lanjutan, salah satunya tidak adanya sekolah yang berpeluang menerima Bantuan Operasional Sekolah Kinerja (BOS Kinerja) pada tahun 2027 mendatang.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai strategi dan arah kebijakan pendidikan di Kabupaten Simalungun ke depan. Terlebih, daerah ini dipimpin oleh kepala daerah dengan latar belakang pendidikan yang mumpuni—Bupati bergelar doktor (S3), serta Wakil Bupati yang merupakan alumni SMA Taruna Nusantara dan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Di mata masyarakat, indikator kualitas pendidikan suatu daerah kerap diukur dari banyaknya siswa yang berhasil masuk ke sekolah unggulan maupun Perguruan Tinggi Negeri.
Dengan berbagai fakta tersebut, publik kini menanti langkah konkret dan strategi yang akan diambil untuk meningkatkan daya saing pendidikan di Simalungun.
“Quo vadis?”—ke mana arah pendidikan Simalungun akan dibawa?
Kita tidak boleh lagi menutup mata ketika Data bicara Fakta,saatnya kita butuh terobosan Nyata untuk generasi kita kedepannya.
Minim prestasi adalah kode Alarm yang mengisyaratkan bahwa Pendidikan kita sedang Tidak Baik Baik saja.
(Redaksi)













